Perkembangan Pendidikan IPA di Masa Depan

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPA DI MASA DEPAN

Oleh :

Siti Nurul Izzah dan Patori

PSn P2TK PASCASARJANA – UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan sesama anggota ASEAN. Salah satu faktor utama rendahnya kualitas sumber daya manusia ini tentu berhubungan dengan dunia pendidikan nasional. Program pendidikan nasional yang dirancang diyakini belum berhasil menjawab harapan dan tantangan masa kini maupun di masa depan.

Menghadapi harapan dan tantangan di masa depan, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan. Pendidikan di masa depan memainkan peranan yang sangat fundamental di mana cita-cita suatu bangsa dan negara dapat diraih. Bagi masyarakat suatu bangsa, pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang akan menentukan masa depannya.

Menghadapi masa depan yang sudah pasti diisi dengan arus globalisasi dan keterbukaan serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi, pendidikan makin dihadapkan pada berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih rumit dari pada masa sekarang atau sebelumnya, untuk itu pembangunan di sektor pendidikan pada masa depan perlu dirancang sedini mungkin agar berbagai tantangan dan permasalahan tersebut dapat diatasi. Dunia pendidikan nasional perlu dirancang agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat komunikasi yang luar biasa.

Pembangunan pendidikan di masa depan perlu dirancang sistem pendidikan yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu berkesinambungan dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.  Dimensi-dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum, pendidik, peserta didik, proses pembelajaran dan sistem penilaian.

Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan, untuk itu kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Pendidik sebagai pelaksana kurikulum harus memiliki kualifikasi yang mumpuni. Artinya pendidik wajib memiliki kompetensi yang baik sesuai dengan ilmu yang akan diajarkan. Dengan memiliki kualifikasi mumpuni dapat memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didiknya.

Proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam menghasilkan output yang berkualitas. Dengan proses pembelajaran yang mengacu pada keterampilan proses sains untuk pelajaran IPA dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Pengalaman langsung ini akan mengkristalisasi lebih dalam pada kemampuan siswa. Dimensi kelima yang memiliki peran adalah penilaian. Penilaian yang baik sesuai dengan karakter mata pelajaran menjadi kunci kemempuan menilai. Selain itu, semua komponen yang ada di sekolah maupun lingkungannya bersama-sama untuk mencapai keberhasilan yang terbaik.

Kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial, dan kredibilitas sehingga tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Terlebih lagi, industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi tingkat tinggi, maka bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka perlu dikaji lebih lanjut tentang bagaimanakah perkembangan pendidikan IPA di masa mendatang ditinjau dari:

  1. Kurikulum,
  2. Guru,
  3. Peserta didik,
  4. Proses pembelajaran,
  5. Sistem Penilaian.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Tinjauan Terhadap Kurikulum

 

  1. Pengertian Kurikulum

 

Berbicara  tentang  isi  kurikulum,  terlebih  dahulu  akan  dikaji tentang  pengertian  dari  kurikulum  menurut  beberapa  ahli.  Istilah  kurikulum seringkali dimaknai  secara berbeda oleh para praktisi, teoritis ataupun peneliti. Tyler  (1934)  dan  Taba  (1962)   mempersepsikan  kurikulum  sebagai  rencana program pengajaran atau rancangan pembelajaran  di kelas. Kurikulum diartikan pula sebagai pengalaman atau kegiatan belajar siswa dibawah  arahan program yang dikembangkan oleh sekolah (Parkay et al., 2006). Kurikulum   sering  pula  dimaknai   sebagai   seperangkat   rencana  dan pengaturan  tujuan,  isi,   bahan  pelajaran  serta  cara  yang  digunakan  sebagai pedoman  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  (UU  RI  Nomor  23  Tahun 2003). Miller & Seller (1985) mempersepsikan kurikulum sebagai seperangkat interaksi  yang  didesain  baik secara eksplisit atau implisit untuk memfasilitasi pembelajaran  dan  pengalaman  siswa.  Interaksi  tersebut,  terjadi  antara  siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa  dengan  materi pelajaran, siswa dengan alat bantu dan media pembelajaran yang digunakan. Miller & Seller (1985) juga mengungkapkan  bahwa  interaksi  dapat  terjadi  pada  level  permukaan  maupun level yang lebih dalam. Pada level permukaan siswa menyerap pelajaran  dari buku. Pada level yang lebih dalam interaksi terjadi antara guru dan siswa ketika berhadapan dengan masalah baru dan bersama-sama memecahkan permasalahan yang dihadapi. Sedangkan, pada level yang lebih dalam lagi siswa terlibat dalam kegiatan   percobaan.   Pada   level   ini   teradi   interaksi  yang   bersifat   saling  menguntungkan   antara siswa dengan guru. Zais (1976) mengemukakan bahwa kurikulum terdiri dari komponen tujuan, materi pelajaran, pengalaman belajar dan evaluasi.

Isi kurikulum juga didefinisikan secara beragam oleh para ahli. Saylor dan Alexander  (1996) mendefinisikan isi kurikulum dalam cakupan yang luas, tapi dinilai dapat menggambarkan konsep tentang isi kurikulum. Menurut Saylor dan Alexander (1966) isi kurikulum adalah:

fakta,  observasi,  persepsi,  ketajaman,  sensibilitas,  desain,  dan  solusi yang  tergambarkan dari apa yang difikiran oleh seseorang yang secara keseluruhan   diperoleh   dari   pengalaman   dan   semua  itu   merupakan komponen  yang  menyusun  fikiran  yang  mereorganisasi  dan  menyusun kembali hasil dari pengalaman tersebut  kedalam adat dan pengetahuan, ide, konsep, generalisasi, prisip, rencana dan solusi”

 

 

Zais (1976) setuju dengan pendapat para ahli di atas, bahwa isi kurikulum mengandung  tiga elemen, yaitu: pengetahuan, proses dan nilai yang ketiganya tidak  dapat  dipisahkan  antara  satu  dengan  yang  lainnya.  Dengan  pemikiran tersebut,   maka   para   penyusun   kurikulum   harus   mempertimbangkan   untuk memasukkan ketiga elemen tersebut dalam konstruksi kurikulum. Dari pengertian tentang isi kurikulum, dapat dikatakan bahwa isi kurikulum IPA merupakan topik- topik  yang berisi fakta, konsep dan  hukum  yang harus dipelajari dalam  IPA, pengalaman dan keterampilan serta nilai-nilai yang harus diperoleh dan dimiliki siswa  pada  saat  siswa  mempelajari  IPA.  Hal  ini  mengandung  arti  bahwa  isi kurikulum IPA tidak selalu difokuskan pada aspek pengetahuan tetapi juga pada proses bagaimana pengetahuan tersebut dikonstruksi.

Pengembangan kurikulum IPA masa depan, perlu mengacu kepada hakikat IPA itu sendiri, yang implementasinya sebagaimana nampak pada materi literasi sains oleh the Program for International Student Assessment (PISA) dan materi pencapaian sains oleh Trends in Internasional Mathematics and Science Study (TIMMS). Selain itu, perlu juga melihat dan membandingkan dengan kurikulum di negara-negara maju.

Sesuai dengan materi literasi sains oleh PISA dan materi sains oleh TIMMS, Nuryani dalam Budi Jatmiko (2007) dalam dua judul makalahnya, yaitu: (1) ”Literasi Sains Anak Indonesia 2000 dan 2003” dan (2) ”Pencapaian Sains Siswa Indonesia pada TIMMS”, merekomendasikan bahwa ke depan kurikulum sains hendaknya:

  1. menekankan pada pembelajaran sains yang seimbang antara konsep, proses dan aplikasinya;
  2. menekankan kemampuan kerja ilmiah sebagai bagian dari proses sains;
  3. dalam pembelajaran, dikembangkan konsep, sikap dan kerja ilmiah siswa dan dinilai, baik selama proses pembelajaran, maupun setelah pembelajaran (hasil belajar).
  4. Tinjauan Terhadap Guru

Guru masa IPA depan menurut Susilo (2006) memiliki kompetensi 1) selalu belajar sepanjang hayat; 2) literat sains dan teknologi; 3) menguasai bahasa asing dengan baik; 4) terampil melakukan penelitian tindakan kelas; 5) rajin menghasilkan karya tulis ilmiah; 6) mampu membelajarkan IPA berdasarkan filosofi konstruktivisme. Dan oleh Herawati (2009) ada dua unsur lagi, yaitu 7) memiliki kecerdasan berpikir serta 8) memiliki sifat mental positif.

  1. Selalu ingin belajar sepanjang hayat

Pengetahuan terus berkembang oleh karena itu pengetahuan Guru IPA juga harus disesuaikan dengan perkembangan itu. Pengetahuan seorang Guru IPA tidak  tergantung oleh berapa sks yang telah ditempuhnya dalam perkuliahan, tetapi bergantung pada seberapa jauh pemahamannya pada bidang ilmunya dan bagaimana belajar menguasai bidang ilmunya. Pada saat sekarang pengetahuan Guru IPA sangat bergantung pada seberapa banyak dia membaca dan mencari informasi baru (menguasai cara mempelajari bidang ilmunya).

Selain materi bidang ilmu, Guru IPA masa depan juga harus memahami “proses belajar”. Semakin berkembangnya zaman maka Guru IPA harus mengubah pola dari mengajar menjadi membelajarkan. Guru IPA juga belajar menganai pendekatan pemebalajaran yang mengaitkan kegiatan belajar di kelas dengan kehidupan sosial masyarakat. Guru IPA belajar sepanjang hayat, dalam artian menjadi pemeblajar mandiri. Seorang guru yang sudah menjadi pembelajar mandiri harus mampu menentukan apa yang terbaik yang akan, perlu, dan harus dilakukan.

 

 

  1. Literasi sains dan teknologi

Guru IPA yang mampu menjadi pembelajar mandiri diharapkan juga berliterasi sains dan teknologi. Gambaran umumnya mengenai literat sains yaitu

  1. Memiliki pemahaman mengenai aspek-aspek sains dan teknologi yang bermanfaat bagi mereka
  2. Menganggap sains dan teknologi menarik dan memberi manfaat
  3. Menggunakan pemahaman mengenai sains dan teknologi dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial tempat tinggal mereka.
  4. Menguasai bahasa Inggris dengan baik

Salah satu tuntutan zaman yang perlu dipenuhi guru IPA masa depan adalah penguasaan bahasa Inggris yang baik. Guru IPA sedapat mungkin mampu berinteraksi secara internasional sehingga ada pertukaran informasi tetang pembelajaran dengan guru-guru manca negara. Dengan jalan seperti ini bisa menimbulkan motivasi untuk belajar lebih banyak.

  1. Terampil melakukan lesson study dan penelitian tindakan kelas

Ciri ini berarti guru selalu dan mau meningkatkan layanan kepada siswa melalui perbaikan proses pembelajaran yang dikelolanya. Guru IPA masa depan tidak menunggu diperintah, disarankan, atau diminta untuk melaksanakan proses pembelajaran yang baik atau terbaik dari rekan dosen LPTK, tetapi secara aktif mencari dan mengembangkan sendiri.

  1. Rajin menghasilkan karya ilmiah

Guru IPA masa depan mampu memperkaya satu dengan lainnya melalui presentasi pemikiran, pengalaman ber-lesson study dan hasil PTK. Komunikasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media.

  1. Mampu membelajarkan IPA berdasarkan filosofi konstrukstivisme

Pernyataan membelajarkan di sini dapat dimaknai sebagai kemampuan meningkatkan minat dan motivasi siswa, kemampuan menghubungkan materi ajar dengan lingkungan siswa, kemampuan mengenalkan dan menggunakan alat pembelajaran IPA yang mendukung pembelajaran dengan filosofi konstruktivisme, dan lebih banyak membelajarkan siswa daripada mengajarkan siswa.

  1. Memiliki kecerdasan berpikir

Guru IPA masa depan perlu memiliki kecerdasan berpikir. Kecerdasan ini merupakan salah satu kecakapan hidup yang perlu dimiliki dan terus dilatihkan agar guru menjadi cekatan dan terampil berpikir yang banyak diperlukan di zaman globalisasi ini untuk mengambil keputusan. Kecerdasan ini akan memudahkan dalam mempelajari kecakapan yang lain seperti kecakapan bersosialisasi, akademis dan vokasional.

  1. Memiliki sifat mental positif

Guru IPA masa depan hendaknya memiliki sikap mental positif. Artinya mempunyai rasa tanggung jawab, disiplin, aktif, memiliki integritas dan berjiwa besar, yakin dan penuh percaya diri, suka tantangan dan kompetisi, menghargai waktu, komitmen, jujur, konsekuen, memiliki determinasi dan pantang menyerah.

 

  1. Tinjauan Terhadap Peserta Didik

Tuntutan kemampuan masyarakat abad Iptek menurut Trilling & Hood dalam Ishartiwi (2009) ada tujuh (7) kemampuan yang perlu dimiliki individu, yaitu: kreativitas, berpikir kritis, bekerjasama, kemampuan pemahaman lintas budaya, kemampuan berkomunikasi, kemampuan Komputer, dan kemampuan berkarier berdasar kemampuan sendiri (belajar berkelanjutan). Hal ini memungkinkan peserta didik menentukan kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, mengatur aktivitas belajar sendiri, dan membantu mengembangkan ketrampilan metakognitif.

Peserta didik diharapkan lebih memahami konsep continous learning (belajar berkelanjutan), life long learning (belajar sepanjang hayat), belajar untuk mengembangkan kecakapan hidup, belajar untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi dalam hidup, belajar agar memiliki kematangan pengembangan diri menuu karier dan cita-cita (Ishartiwi, 2009). Jadi peserta didik di masa mendatang adalah peserta didik yang progresif. Artinya ia tidak hanya menerima apa yang diberikan oleh pendidiknya. Hal ini disebabkan pendidikan masa depan belajar tidak hanya di dalam kelas. Media yang ada di sekitar kita dapat dimanfaatkan terutama media teknologi.

 

  1. Tinjauan Terhadap Proses Pembelajaran

Alan J. McCormack (1992) mengemukakan tentang kecenderungan perubahan di dalam kurikulum sains dilihat dari proses pembelajarannya adalah meliputi 5 domain, yaitu:

  1. Pemahaman dan pengetahuan (knowledge domain).
  2. Eksplorasi dan diskoveri (process of science domain).
  3. Imaginasi dan Kreativitas (creativity domain).
  4. Sikap Ilmiah (Attitudinal domain).
  5. Pemanfaatan dan penerapan (applications and connections domain).

Pembelajaran sains menurut Nuryani dalam Budi Jatmiko (2007) hendaknya:

  1. dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa bahwa mereka ”mampu” dalam Sains dan bahwa Sains bukanlah pelajaran yang harus ditakuti;
  2. Membelajarkan Sains tidak hanya membelajarkan konsep-konsepnya saja, namun juga disertai dengan pengembangan sikap dan keterampilan ilmiah (domain kognitif);
  3. pembelajaran Sains memberikan pengalaman belajar bernalar yang mengembangkan kemampuan bernalar, merencanakan dan melakukan penyelidikan ilmiah, menggunakan pengetahuan yang sudah dipelajari untuk memahami gejala alam yang terjadi di sekitarnya.
  4. merevitalisasi ”keterampilan proses sains” bagi siswa, guru, dan calon guru sebagai misi utama PBM sains di sekolah untuk mengembangkan kemampuan menafsirkan (interpretasi) data dan informasi (narasi, gambar, bagan, tabel) serta menarik kesimpulan.

Proses pembelajaran IPA pada Kurikulum 2006 lebih menekankan pada kerja ilmiah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nuryani dalam Budi Jatmiko (2007) bahwa ”dalam kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006 (KTSP) ditekankan kemampuan kerja ilmiah dalam Kurikulum Sains, sebagai bagian dari proses sains”. Budi Jatmiko (2007) menambahkan bahwa proses pembelajaran  IPA masa depan hendaknya lebih menekankan pada pemberian pengalaman langsung, kontekstual dan berpusat kepada siswa,  guru bertindak  sebagai fasilitator. Sedangkan proses pembelajaran yang terlihat pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk Kurikulum 2006 pada mata pelajaran IPA SD dan  SMP dan yang berhubungan dengan kerja ilmiah adalah sebagai berikut.

  • Siswa kelas 1 – 3, belum diperkenalkan pada kerja limiah, mereka masih terbatas pada: mengenal, mengidentifikasi, membiasakan, membedakan, menggolongkan, mendeskripsikan.
  • Siswa kelas 4 semester 2, baru mulai diperkenalkan dengan kerja ilmia, yaitu menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat merubah gerak suatu benda dan dapat mengubah bentuk suatu benda.
  • Siswa kelas 5,  nampak adanya kerja ilmiah yaitu menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap, namun sebagian besar hanya mengidentifikasi dan mendeskripsi-kan.
  • Siswa kelas 6, nampak juga adanya kerja ilmiah, yaitu melakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan antara gaya dan gerak.
  • Siswa kelas 7 – 12, nampak bahwa kerja ilmiah banyak digunakan dalam pembelajaran IPA, di samping itu juga pembelajaran IPA yang bersifat analisis dan pemecahan masalah banyak diperkenalkan di sini.

Berdasarkan uraian diatas, nampak bahwa pada Kurikulum 2006 lebih menekankan kerja ilmiah IPA, lebih lanjut dikatakan oleh Utomo Dananjaya (2007) bahwa pembelajaran IPA masa depan hendaknya menuju paradigma baru yang progresif. Sudah terlalu lama pendidikan dilaksanakan secara guru bicara murid mendengar, guru tokoh sentral, suasana kaku dan muram serta murid apatis. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi kemudahan dan kenyamanan. Diperlukan perubahan fundamental, dari konvensional  menjadi sesuatu yang berbeda,  yaitu paradigma baru .

Tabel 1.  Perbandingan dua paradigma yang berbeda

NO

KONSERVATIF

PROGRESIF

1

Pandangan filosofi anak suci

Pandangan filosofi anak berpotensi

2

Teori John Lock

Teori John Dewey

3

Tujuan terukur, standar

Tujuan aspiratif  & kepercayaan

4

Berpusat pada guru

Berpusat pada murid

5

Guru ahli dengan otoritas formal

Guru profesional , fasilitator

6

Guru berjarak dan berceramah

Guru mewujudkan suasana belajar

7

Guru sangat aktif memakai 80% waktu

Murid aktif dan bekerja sama

8

Sumber dari buku pelajaran, standar dan seragam

Bahan pelajaran alam semesta, perpustakaan, internet dan variatif 

9

Murid mereproduksi pengetahuan-pengetahuan

Murid memproduksi pengetahuan

10

 Murid dianggap celengan                    

Murid aktif mengembangkan                                                              Potensi-potensinya

11

 Dinilai oleh guru atau pihak luar    untuk menghindari hukuman                        

Menilai sendiri, oleh sesama    murid dan guru agar tahu diri

12

 Belajar sebatas ruang kelas.               

Belajar di kelas, di lingkungan, dan di alam semesta.

13

 Suasana kaku, muram, tertindas            

Suasana menyenangkan.

14

 Waktu belajar sebatas sistem                 

Waktu belajar sepanjang hayat

 

Pembelajaran IPA masa depan selain berlangsung dalam paradigma baru juga mengikuti perkembangan teknologi. Di era informasi IPA dan Teknologi dapat bersinergi untuk lebih memberi makna pada pembelajaran. Selain itu, pembelajaran dapat berlangsung di dalam kelas dunia nyata maupun dunia maya atau pembelajaran jarak jauh. Bahkan sangat dimungkinkan untuk melakukan sharing pembelajaran antarsekolah baik dalam sebuah negara maupun dengan negara lain. Guru masa depan dituntut untuk menyiapkan bahan ajar melalui e-learning atau menyajikan media pembelajaran yang berbasis multimedia atau berbantuan komputer. Laboratorium IPA pun sudah harus menyiapkan fasilitas layanan yang berbasis informasi dan teknologi. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran masa depan adalah pembelajaran yang berwawasan global.

Di satu sisi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan memunculkan layanan kemudahan dalam mengakses sumber-sumber belajar IPA, namun di sisi lain tidak semua perkembangan IPTEK berdampak positif bagi pembelajaran IPA. Sebagai contoh materi pemanasan global dapat dikuasai dengan baik oleh peserta didik, namun upaya untuk tidak memperparah kondisi bumi makin panas masih kurang. Makin hari penggunaan AC atau Refrigerator makin banyak, jumlah kendaraan bermotor makin bertambah, luas sawah dan hutan makin berkurang, populasi hewan dan tanaman langka makin berkurang. Materi bahan kimia dalam makanan dapat dipelajari dengan baik, namun penggemar makanan cepat saji (Fast food) makin banyak, tidak sedikit pedagang yang menambahkan bahan kimia berbahaya pada makanan yang dijual. Dari contoh tersebut, hendaknya pembelajaran IPA masa depan adalah pembelajaran yang berwawasan global dan berbasis kearifan lokal.

  1. Tinjauan Terhadap Sistem Penilaian

McCormack (1992) mengemukakan bahwa penilaian akan lebih bermanfaat bagi proses pembelajaran jika menggunakan tes kinerja dan pemecahan masalah, sedangkan Nuryani dalam Budi Jatmiko (2007) berpendapat bahwa penilaian hendaknya:

  1. dibuat tidak hanya mengukur pengetahuan dan konsep saja, namun juga mengukur proses sains;
  2. menggunakan penilaian portofolio, tes keterampilan proses sains,;
  3. mengadopsi bentuk tipe soal serupa dengan PISA untuk mendorong PBM berkontribusi pada peningkatan literasi sains siswa dan sekaligus menggali kemampuan berpikir ilmiah, kritis, kreatif, dan inovatif.
  4. tidak hanya menekankan penguasaan konsep tingkat rendah dengan bentuk pilihan ganda saja. Siswa perlu memiliki pengalaman dites berdasarkan hasil observasi dan hasil kegiatan. Siswa juga perlu dimintai alasan mengapa kira-kira hasilnya serupa itu.
  5. mencakup penilaian kinerja selama pembelajaran. Demikian juga perlu memperkenalkan tipe soal yang diujikan melalui TIMMS kepada siswa dan guru sains.

Budi Jatmiko (2007) menambahkan  bahwa ditinjau dari kurikulum IPA SD, SMP dan SMA khususnya pada latar belakang, maka asesmen pada pembelajaran IPA SD, SMP, dan SMA ditekankankan pada: authentic assessment dan problem solving. Implementasi kerja ilmiah dan pemecahan masalah pada pembelajaran IPA dapat dilihat dari fakta hasil literasi sains anak-anak Indonesia yang dilakukan oleh the Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam PISA (the Program for International Student Assessment) dan pencapaian sains anak-anak Indonesia oleh the Internasional Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) dalam TIMMS (Trends in International Mathematics and Science Study). Nuryani dalam Budi Jatmiko (2007) mengemukakan bahwa Literasi IPA didefinisikan oleh PISA  sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam.   

Penilaian terhadap implementasi Pendidikan IPA di Indonesia,  dapat dilihat dari hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. Hal ini mengingat arti literasi IPA itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten IPA, proses IPA dan aplikasi IPA. Hasil penelitian PISA tahun 2000 dan tahun 2003 menunjukkan bahwa literasi sains anak-anak Indonesia usia 15 tahun masing-masing berada pada peringkat ke 38 (dari 41 negara) dan peringkat ke 38 dari (40 negara) (Bastari Purwadi dalam Budi Jatmiko, 2007). Sedangkan skor rata-rata pencapaian siswa ditetapkan sekitar nilai 500 dengan simpangan baku 100 point. Hal ini disebabkan kira-kira dua per tiga siswa dinegara-negara peserta memperoleh skor antara 400 dan 600 pada PISA 2003. Ini artinya skor yang dicapai oleh siswa-siswa Indonesia kurang lebih terletak disekitar angka 400. Ini artinya bahwa siswa-siswa Indonesia tersebut diduga baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana (Nuryani dalam Budi Jatmiko, 2007).

Sedangkan survei juga telah dilakukan oleh TIMMS terhadap pencapaian sains anak kelas 4 (9 tahun saat di tes) dan kelas 8 (13 tahun saat di tes) dengan ruang lingkup domain konten dan domain kognitif, untuk domain konten dibedakan: level kelas 4 mencakup Life science, Physical science, dan Earth science. Untuk level kelas 8 mendapat tambahan Kimia (Chemistry) dan pengetahuan lingkungan (Environmental science). Domain kognitif mencakup pengetahuan tentang fakta (factual knowledge), pemahaman konsep (conceptual understanding), serta penalaran dan analisis (reasoning & analysis). Survai untuk TIMMS menunjukkan bahwa dari 38 negara yang berpartisipasi pada tahun 1999 dan dari 46 negara yang berpartisipasi pada tahun 2003,  masing-masing anak Indonesia menempati peringkat 32 dan 37. Skor rata-rata perolehan anak Indonesia untuk IPA mencapai 420,221, skor ini tergolong ke dalam katagori low bencmark artinya siswa baru mengenal beberapa konsep mendasar dalam Fisika dan Biologi (Nuryani dalam Budi Jatmiko, 2007).

Nuryani (2008) menyampaikan bahwa perlu adanya perubahan peranan dan pelaksanaan penilaian.

      Tabel 2. Perubahan peranan dan pelaksanaan penilaian.

Peranan

Dulu

Sekarang

Guru

Mengajar

Mendefinisikan hasil pembelajaran, mengajar, melaksanakan penilaian utama.

Siswa

Dinilai

Menilai diri sendiri dan teman

Kepala Sekolah

Menginterpretasi hasil ujian terstandar

Menginterpretasikan hasil ujian dan menyediakan dukungan terhadap penilaian kelas.

Pelaksanaan

Dulu

Sekarang

Tujuan

Akuntabilitas

Akuntabilitas, pembelajaran

Penggunaan

Penyaringan hasil pengujian dari atas ke bawah

Penyaringan hasil pengujian dari atas ke bawah dan dari kelas ke atas.

Sasaran

Bersifat umum, Tidak terbuka

Sangat terarah dan bersifat terbuka

Metode

Terutama berupa respon terpilih

Terutama berupa penilaian kinerja dan essay dengan bebrapa respon terpilih

(Nuryani, 2008)

Berdasarkan data diatas, maka diduga implementasi Kurikulum IPA di Indonesia belum optimal. Pembelajaran IPA masih berlangsung dengan paradigma lama dengan sistem penilaian yang mengukur kemampuan kognitif saja. Sistem penilaian IPA masa depan hendaknya mengukur pengetahuan dan proses sains dengan menggunakan berbagai variasi penilaian seperti: penilaian portofolio, tes ketrampilan proses sains dan penilaian kinerja selama pembelajaran. Tipe yang soal yang akan diujikan juga dapat mengadopsi maupun mengadaptasi tipe soal yang sejenis dengan PISA maupun TIMMS. Penilaian juga dapat dilakukan dalam bentuk paper-based maupun internet-based.

 

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan.

Berdasarkan kajian pada pembahasan tentang perkembangan pendidikan IPA di masa mendatang, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kurikulum IPA masa depan hendaknya :
    1. menekankan pada pembelajaran sains yang seimbang antara konsep, proses dan aplikasinya;
    2. menekankan kemampuan kerja ilmiah sebagai bagian dari proses sains;
    3. dalam pembelajaran, dikembangkan konsep, sikap dan kerja ilmiah siswa dan dinilai, baik selama proses pembelajaran, maupun setelah pembelajaran (hasil belajar).
    4. Guru IPA masa depan hendaknya memiliki kompetensi :
      1. selalu belajar sepanjang hayat;
      2. literat sains dan teknologi;
      3. menguasai bahasa asing dengan baik;
      4. terampil melakukan penelitian tindakan kelas;
      5. rajin menghasilkan karya tulis ilmiah;
      6. mampu membelajarkan IPA berdasarkan filosofi konstruktivisme;
      7. memiliki kecerdasan berpikir serta
      8. memiliki sifat mental positif.
      9. Peserta didik masa depan merupakan peserta didik yang progresif .
      10. Proses Pembelajaran IPA masa depan hendaknya:
        1. dilaksanakan dengan menggunakan paradigma baru, yaitu pembelajaran yang berwawasan global dan berbasis kearifan lokal yang disajikan secara menyenangkan dan bermakna (joyful and meaningful learning).
        2.  membelajarkan semua domain sains (knowledge domain, process of science domain, creativity domain, attitudinal domain, application and connection domain.
        3. Sistem Penilaian IPA masa depan hendaknya,
          1. mengukur pengetahuan, konsep dan proses sains.
          2. menggunakan berbagai teknik penilaian (penilaian portofolio, tes ketrampilan proses sains)
          3. mengadopsi maupun mengadaptasi bentuk tipe soal serupa dengan PISA dan TIMMS.
          4. mengukur ketrampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skils/ HOTS) dan pemecahan masalah.
          5. memanfaatkan teknologi dalam bentuk penilaian berbasis multimedia.
          6. dapat dilaksanakan dengan paper-based maupun internet-based.

 

  1. Saran.

Dari hasil kajian bahwa kurikulum  IPA di Indonesia sudah mengarah terhadap perkembangan kurikulum IPA masa depan, maka kami dapat menyarankan sebagai berikut.

  1. Pelaksanaan kurikulum hendaknya dilaksanakan oleh semua pihak, meliputi pemerintah, pendidik dan masyarakat.
  2. Guru sebagai pelaksana kurikulum hendaknya memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat.
  3. Guru menerapkan  dan mengembangkan pembelajaran-pembelajaran IPA yang kreatif.
  4. Semua masyarakat Indonesia bersama-sama menerapkan perubahan-perubahan yang ada pada kurikulum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anderson, Lorin W., and Krathwohl, David R.2001. A taxonomy for learning, Teaching, and Assessing A Revision of Bloom Taxonomy. NewYork : Addison Wesley Longman, Inc.

 

Dananjaya, Utomo.2007.Kurikulum Masa Depan. Makalah disampaikan dalam Seminar Kurikulum Masa Depan. Bogor.

 

Departemen Pendidikan Nasional : Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.23 Tahun 2003

 

Herawati Susilo. 2009. Upaya membelajarkan Guru IPA/Biologi Masa Depan yang Cerdas dan Profesional. Malang : FMIPA UM

 

Ishartiwi.2009. Continuous Learning Bagi Keberhasilan Masa Depan Siswa. Makalah disajikan dalam Seminar “Continuous Learning” bagi Keberhasilan Masa Depan Siswa. Yogyakarta

 

Jatmiko, Budi. 2007. Kurikulum IPA Masa Depan. Makalah disajikan dalam Kajian Kebijakan Kurikulum Masa Depan. Bogor

 

McCormack, A. J.1992.Trend and Issues in Science Curriculum.New York: Krauss International Publications.

 

Miller, John P. And Seller, Wayne. 1985. Curriculum Perspectives and Practice. New York : Longman Publishing Group.

 

Parkay, et all. 2006. Practice Teaching Hanbook. North Bay : Faculty Education

 

Rustaman, N. Y. 2008. Arah Penilaian Pembelajaran IPA Masa Depan. Jurnal Volume VI No 6 April 2008.

 

Saylor, J. Galen and Alexander, Wiliam M. 1996. Curriculum Planning for Better Teaching and Learning. INTI University

 

Susilo, H.; Corebima, A.D., Ibrahim, M. 2006. Pemberdayaan Kemampuan Berpikir Siswa dan Mahasiswa Melalui Pembelajaran Konteks tual dalam Mata Pelajaran IPA/Biologi. Laporan Penelitian tidak Diterbitkan. Malang: Lemlit UM

 

Taba, Hilda. 1962. Curriculum Development: Theory and Practice. New York : Harcourt, Brace and World.

 

Zais, Robert S. 1976. Curriculum: Principle and Foundation. New York : Coowell

 

___________. 2007. Naskah Akademik: Kajian Kebijakan Kurikulum IPA. Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s